Thursday, February 10, 2011

Enterobacter sakazakii

Jangan menganggap remeh masalah pengenceran susu formula. Ini bukan main-main karena data di Afrika bisa dijadikan gambaran; 30 % bayi meninggal sebelum usia satu tahun karena pemberian susu dengan air tidak bersih dan cara pengenceran yang salah. Pengenceran yang tidak tepat tidak hanya membuat si kecil sakit atau kurang gizi, tapi juga menyebabkan komplikasi lain. Itulah mengapa, komposisi air dan susu dengan takaran yang tepat amat dibutuhkan.
Salah satu cemaran yang sebaiknya disikapi dengan sangat serius, adalah cemaran susu oleh bakteri. Hal ini sesuai dengan berbagai berita yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Keresahan masyarakat diawali dengan pemberitaan hasil penelitian tim peneliti IPB yang berkesimpulan bahwa 23 % susu formula mengandung Enterobacter sakazakii.
Bakteri tersebut berpotensi dapat menyebabkan peradangan saluran pencernaan (enteritis), infeksi peredaran darah (sepsis), serta infeksi pada lapisan urat syaraf tulang belakang dan otak (meningitis).
Menyikapi hasil penelitian tersebut, sebaiknya Anda tidak serta merta bertindak gegabah. Tindakan waspada, lebih selektif memilih produk susu, sikap penuh dengan kehati-hatian juga diperlukan dalam menyiapkan dan memberikan susu formula kepada buah hati Anda.
Berbeda dengan air susu ibu yang mengandung zat antibakteri, susu formula tidak bersifat bakteriostatis (menahan perkembangan dan reproduksi bakteri) sehingga mudah menjadi tempat perkembangbiakan bakteri. Kondisi tubuh bayi yang baru lahir, terlebih lagi yang terlahir premature — sangat rentan terhadap bakteri tersebut.
Sebenarnya selain E. sakazakii, ada jenis bakteri lain yang lebih patut diwaspadai, yaitu E. coli dan Salmonella. Dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2970-1999, sebagai indikator sanitasi masih mencantumkan bakteri koliform E. coli, bukan Entereobacteriaceae. Sedangkan Committee on Food Hygiene (CCFH) merekomendasikan jumlah sample untuk pengujian E. sakazakii bagi industri tidak sebanyak jumlah sample untuk pengujian Salmonella. Hal ini mengindikasikan, bahwa meskipun E. sakazakii dianggap berbahaya dan harus diwaspadai dalam susu formula, namun resikonya tidak sebesar Salmonella.
Proses pencemaran bakteri pada susu formula dapat bermula dari ketika susu diperah dari sapi. lika proses pemerahan tidak hygiene akan memungkinkan berkembangnya bakteri. Namun dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan proses pemerahan susu, hal tersebut dapat diperkecil kemungkinan tercemarnya bakteri. Misalnya menggunakan mesin pemerah susu, sehingga mengurangi risiko susu tercemar dari udara di luar.
Proses pencemaran mikroorganisme dapat juga terjadi pada saat penyimpanan dan saat proses pengolahan. Intinya proses pengolahan susu formula harus selalu terjaga dan tetap steril, mulai dari proses pemerahan hingga saat diproses di dalam pabrik. Melihat proses pengolahan susu kini sudah sangat canggih dan dapat terjamin kualitasnya sehingga cemaran bakteri dinyatakan nihil.
Selain cemaran mikroorganisme, SNI tersebut juga mengatur persyaratan jenis cemaran logam seperti tembaga, timbal, seng timah, raksa, dan arsen. Dengan adanya persyaratan ini, produsen susu formula dituntut untuk memberikan jaminan keamanan sesuai dengan yang telah ditentukan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) biasanya melakukan pengawasan secara berkala terhadap berbagai produk yang beredar di pasaran, tidak hanya susu formula, tapi jenis pangan lainnya.
Namun yang patut disadari adalah, tidak ada pangan yang zero risk (tidak beresiko sama sekali), tetapi pengelolaan yang baik akan menghasilkan pangan dengan resiko yang sangat rendah. Konsumen modern sudah perlu membuka cakrawala wawasan terhadap informasi-informasi keamanan pangan sehingga bisa menempatkan diri secara tepat terhadap isu-isu yang berkembang demi menjamin kesehatan diri sendiri dan keluarga. Sumber: FKUNHAS




Tuesday, February 1, 2011

Belajar membuat blog

Setelah 3 bulan berjalan melaksanakan pelatihan media promosi kesehatan, maka hari ini 1 Februari 2011 dilanjutkan dengan pelatihan/Belajar membuat blog.
Dalam kegiatan ini akan dimulai dengan:
  • Membuat email bagi yang belum memiliki dianjurkan menggunakan gmail
  • Membuat blog dengan blogger.
  • Memanfaatkan intranet.
  • Memanfaatkan website.
Kegiatan ini direncanakan berlangsung 4 kali pertemuan pada hari Selasa dan Rabu jam 13.30 - 15.30

Monday, October 11, 2010

Pelatihan Desain Media Promkes

Bertepatan tanggal 5 Oktober 2010 bertempat di ruang Workshop UPT SIK Dinkes Tulungagung, Bidang Pengembangan SDM Persakmi Cabang Tulungagung melakukan pelatihan Desain Media Promkes.
Acara ini dibuka oleh Didik Nusantoro, S.KM, MM, selaku Ketua II Persakmi Cabang Tulungagung, dalam sambutannya disampaikan bahwa tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan ketrampilan anggotanya dalam membuat media promosi kesehatan.


Kegiatan ini direncanakan selama 24 kali pertemuan, sebagai pemateri dalam pelatihan ini adalah Muklis Trinugroho, S.KM, yang juga anggota Persakmi Cabang Tulungagung.

Monday, September 6, 2010

Koperasi Persakmita Sejahtera Mandiri

Diawali adanya undangan Konggres Nasional (Konas) II PERSAKMI di Surabaya tanggal 08 Agustus 2008 – 10 Agustus 2008, maka mulailah para SKM di Kabupaten Tulungagung membentuk formatur, agar dapat menjadi perwakilan dalam Konas tersebut. Tugas yang dibebankan pada formatur adalah menghadiri dan menindaklanjuti hasil konas.

Setelah konas berakhir maka formatur menyusun laporan hasil konas untuk melaksanakan pembentukan PERSAKMI di Kabupaten Tulungagung sesuai dengan mandat dari PERSAKMI Pusat.  Akhirnya terbentuklah PERHIMPUNAN SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA (PERSAKMI) CABANG TULUNGAGUNG, yang dideklarasikan pada acara seminar dan launching pada tanggal 9 Desember 2009. 


Saturday, July 31, 2010

Memilih Pemimpin Daerah yang Melek Kesehatan

by : Sapariah

DI beberapa tempat di wilayah Indonesia, kini disibukkan agenda pemilihan kepala daerah (pilkada). Ada yang sudah pemilihan, ada pula dalam proses persiapan. Tentu berharap siapa pun figur pemimpin daerah membawa daerah menjadi lebih baik. Tantangan sebagai kota/kabupaten saat ini dihadapkan berbagai macam masalah yang harus diatasi dengan sistematis. Permasalahan masyarakat, terutama daerah urban atau perkotaan sangat kompleks dan berdampak pada masalah ekonomi, sosial, peningkatan jumlah penduduk, serta perubahan lingkungan. Beberapa masalah muncul antara lain pengangguran, lahan permukiman sempit, dan polusi udara akan berdampak kepada penurunan derajat kesehatan masyarakat di daerah urban atau perkotaan.

Begitu peliknya masalah perkotaan, pada Hari Kesehatan Sedunia ke-62 tahun 2010, WHO mengambil slogan “1.000 Kota, 1.000 Kehidupan”. Slogan ini mengandung makna ajakan dan motivasi agar pemimpin dan para penentu kebijakan dapat merumuskan dan menerapkan kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Juga ajakan dan motivasi agar tokoh masyarakat dan penggerak masyarakat bersama masyarakat melakukan aksi peningkatan kesehatan di lingkungan kehidupan.
Pemerintah bersama segenap komponen masyarakat harus lebih fokus melaksanakan program aksi terutama promosi dan preventif terkait dampak masalah perkotaan pada kesehatan masyarakat. Yaitu, melalui pengembangan kota berwawasan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dalam membangun warga masyarakat yang sehat. Untuk mengimplementasikan pengembangan kota berwawasan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, para pemimpin daerah perlu mengetahui isu dasar kesehatan agar mereka lebih melek kesehatan.
Loading...